Do We Really Need a (Best) Friend?

“The truth is, everyone is going to hurt you. You just got to find the ones worth suffering for” (Bob Marley)

Saya pernah bertanya pada status Facebook saya sendiri, apakah kita (manusia) sesungguhnya memerlukan seorang sahabat? Seseorang yang bukan sekedar teman? 

Sebenarnya, pertanyaan itu saya ajukan untuk diri sendiri. Tapi, siapa mengira jika saya mendapatkan respon beragam dari beberapa teman-teman yang ada di Facebook saya. 

Jujur, saya memang mencari jawab dari tanya itu. Tanya itu berkaitan dengan apa yang saya alami beberapa waktu belakangan ini. Sesuatu yang berkaitan dengan teman, yang membuat saya terluka, sedih, marah dan merasa diabaikan. Hingga pada akhirnya, saya merasa ditinggal sendirian. Mungkin apa yang saya rasakan, terdengar klise. Sama klisenya dengan orang yang baru putus cinta atau patah hati lantaran cintanya tak terbalas. Sepatutnya, apa yang saya rasa ini lebih baik diabaikan, dilupakan. 

Sayangnya, saya bukan tipikal yang gampang melupakan sesuatu. Apalagi jika itu berkaitan dengan perasaan yang membuat saya terluka, marah, apalagi terabaikan. Panggil saya sensitive, jika itu menyenangkan Anda. Saya terima. But, hey, you not have right to judge me as sensitive person, if you really not know me better. 

No. We just need ourselves as our best friend. Best friend sometimes forgets and goes away. We never do. Sooner or later everyone will go away. If we can stand alone, we will be fine. But of course we need to learn that. I am learning too” (IP). Ini adalah jawaban pertama yang saya dapatkan dari tanya saya. 

Best friend sometimes forgets and goes away. Saya tahu, manusia bisa datang dan pergi begitu saja. Tak ada yang bisa menahan atau mencegahnya. Sama halnya dengan hubungan pertemanan. Saya seharusnya bisa lebih berbesar hati menghadapi “teman-teman” yang tiba-tiba menghilang atau tiba-tiba mengabaikan saya. Toh, bukankah setiap individu memiliki kehidupan masing-masing? Toh, bukankah bukan hak saya juga meminta mereka, para teman ini bisa terus memperhatikan saya? Nyatanya, sampai hari ini, saya masih belum bisa berbesar hati pada sejumlah orang dengan label teman baik, yang tiba-tiba berlalu begitu saja. Tanpa pesan, tanpa basa-basi. Peduli lagi pun tidak. 

Lalu, saya teringat kutipan lain yang pernah saya baca. “Sama halnya dengan mencintai seseorang, dalam persahabatan juga diperlukan kelapangan hati untuk saling memberi dan menerima”.  Sayangnya, saya tidak tahu, seberapa banyak saya telah memberi dan menerima dari orang-orang berlabel teman, yang kini menghilang itu. Apa kemudian pantas, jika saya menghitung-hitung apa yang sudah saya atau mereka lakukan dalam hubungan pertemanan kami? Tampaknya tidak. Itu biarlah tetap menjadi misteri semesta. Lalu, apakah istilah best friend forever sama picisannya dengan love you forever? Hanya berlaku dalam film-film remaja picisan atau novel-novel serupa? Terlalu naif-kah, jika saya percaya dengan adanya best friend itu?

For sure (we need a best friend), we can’t live alone (AFW). Tentu, saja jawaban ini pun ada benarnya. Manusia mana yang bisa bertahan sendirian, sekalipun manusia di jaman primitif. Saya tahu, sebagai mahluk sosial, omong kosong rasanya jika saya tak perlu seseorang (teman) untuk bisa berbagi. Berbagi cerita, entah tentang masalah-masalah perempuan, cinta, atau pun keluarga. Katakanlah, bukan mencari “tempat sampah” yang hanya bisa menampung semua isi hati. Bukan, saya tidak mencari yang seperti itu. “It’s the friends you can call up at 4 a.m. that matter.” (Marlen Dietrich). 


Saya pun lantas, sempat membangun “iglo”. Iglo yang saya bangun dengan dinding setebal dan serapat mungkin. Hanya ada satu jendela dan satu pintu. Semata untuk melindungi saya dari rasa terluka, marah dan terabaikan ini. Saya memilih bersembunyi di dalamnya, sambil belajar menerima dan memaafkan. Tidak hanya itu, saya juga ingin melihat apakah masih ada di luar sana, yang sudi mengetuk pintu iglo saya, atau sekedar mengintip dari balik jendela, untuk sekedar tahu keadaan saya di dalam sini. Nyatanya ada. 

Tak ada kata lain yang pantas saya ucap selain pujian penuh syukur. Tuhan masih memiliki sekeranjang penuh berisikan orang-orang baik bernama teman. Orang-orang ini, yang rupanya (mungkin) peduli pada saya. Sekedar menanyakan kabar, buat saya itu lebih dari cukup. Sekedar bertukar lagu-lagu untuk pengisi iPod, itu juga lebih dari cukup. Atau sekedar mengucapkan selamat tidur untuk saya, sederhana tapi bermakna. Sekedar jabat atau peluk erat pada bahu saya, itu jauh lebih menghangatkan dari pada semangkuk sup ayam panas. Dan saya berhutang banyak pada orang-orang ini. Mereka telah melumerkan sedikit demi sedikit iglo yang saya bangun. 

Saya tahu, tak patut lagi saya mempertanyakan pertanyaan tentang kebutuhan akan teman baik ini. Tuhan telah mendengar tanya saya, jauh sebelum saya menuliskannya di Facebook. Apa yang hilang, biarlah hilang. Saya mencoba mensyukuri dan berlaku baik pada apa yang sudah terlihat di depan mata saya yaitu orang-orang baik dengan nama teman ini.

Saya jadi ingat, seorang teman pernah berkata begini, “jangan pernah menyimpan 10 telurmu dalam 1 keranjang”. Rasanya ini juga berlaku untuk pertemanan. Saya bisa saja kehilangan beberapa teman, yang meninggalkan rasa sakit di hati. Sisi baiknya, saya masih punya teman-teman lain di luar sana. Teman-teman yang tak patut lagi saya tanyakan hatinya. 

Tentu, saya akan belajar dan terus belajar. Mereka yang meninggalkan saya, telah meninggalkan jejak lain di hati. Membantu saya untuk bisa jadi lebih dewasa dan bijak dalam menjalani hidup. Manusia hanya punya banyak cacat dan cela. Sama dengan hubungan pertemanan, tak ada yang sempurna. Saya, lebih suka hubungan pertemanan yang cacat dan banyak lubang. Karena selalu ada kesempatan di dalamnya untuk saling memperbaiki dan menambal melalui kesabaran, hati besar, keikhalasan, doa juga cinta dan kasih sayang. 


Ooh duhai temanku, jika kau ingat lagi padaku. Sudikah kita bertemu kembali dengan jiwa-jiwa yang kosong, seolah kita baru pertama kali bertemu. 


“Friendship is the hardest thing in the world to explain. It’s not something you learn in school. But if you haven’t learned the meaning of friendship, you really haven’t learned anything.” (Muhamad Ali)




09/16/12 at 2:48pm
1 note
  1. tamitadelights posted this